Pages

Sabtu, 20 September 2014

AKSIOLOGI DAN METAFISIKA : SEBUAH DILEMA MORAL DAN EKSTENSI 16 SEPTEMBER


 

Helloww Guys.... Me Again xoxoxoo !!!!

AKSIOLOGI! yaa itulah yang menjadi pembahasan hari ini di kampus.

Aksiologi berbicara mengenai "cara penggunaan sebuah ilmu" dan berbagai macam nilai yang ada, serta metafisika yang berhubungan dengan ontologi.

Seperti biasanya, sebelum kita berbicara banyak mengenai aksiologi, kita patut tau dulu yang satu ini! 


Aksiologi sediri secara etimologis diambil dari kata "axios" dan "logos", yang memiliki nilai dan ilmu. Aksiologi merupakan sebuah cabang ilmu dalam filsafat yang mempelajari tentang tujuan ataupun nilai guna suatu ilmu bagi seorang manusia.

Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.
Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etis.


Pengetahuan manusia itu cukup luas. Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya.Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.Bagaimana kaitan antara cara pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai.


Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai.
Nilai yang dimaksud dalam aksiologi dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.

Seorang aksiolog sendiri harus bisa membedakan antara fakta dan nilai.
Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif. Misalnya letusan gunung Merapi.
 Letusan bisa  punya nilai bagi seorang, namun tidak bagi yang lain. 
Fakta sendiri selalu mendahuli nilai, karena sebuah nilai dapat ditarik dari sebuah fakta.

                                                Tiga Ciri Nilai :
1) Nilai berkaitan dengan subjek, 
2) Nilai tampil dlm konteks praktis, 
3) Nilai menyangkut  sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki oleh objek.

Apa yang  membuat suatu nilai menjadi nilai moral? Setiap nilai memperoleh bobot moral  bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral. Kejujuran sebagai nilai moral menjadi kosong, bila tidak diikutsertakan dengan nilai  lain seperti nilai ekonomis.

                                       Nilai dibagi dalam 4 kelompok: 
1) Nilai yg menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yg perpadanan dengan makluk punya indera. 
2) Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar,  luhur dll, 
3) Nilai rohani spt nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalah inderawi), 
4) Nilai Religius spt yg kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.


Ada suatu hirarki dari pengelompokkan 4 nilai tersebut: nilai vital lebih tinggi dr nilai kesenangan, nilai rohani lebih tinggi dr nilai vital, dst.

                                                     Ciri-ciri nilai moral sendiri adalah:
1) Berkaitan dengan tanggungjawab kita sbg manusia. Nilai moral bs diwujudkan dlm perbuatan  yg sepenuhnya jd tanggungjawab.
2) Berkaitan dg hati nurani,
3) Mewajibkan, mis nilai moral mewajibkan scr absolut, 
4) Bersifat formal: tdk ada nilai moral yg ‘murni’ terlepas dari nilai lain.


                                                Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu: 
1) Etika (Filsafat Etika),dan 
2) Estetika (Filsafat keindahan).

Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma, dan istilah moral. Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal karya besar seni.  
Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya

Objektivitas dan Subjektivitas:

Nilai itu kadang-kadang bersifat obyektif, namun kadang-kadang bersifat subyektif.
Dikatakan obyektif apabila nilai-nilai tidak tergantung pada subyek atau kesadaran yang menilai.
Tolak ukur suatu gagasan berada pada obyeknya bukan pada subyek yang melakukan penilaian.
Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada obyektivitas fakta.Nilai menjadi subyektif apabila subyek berperan dalam memberikan penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukurnya.Dengan demikian, nilai subyektif selalu memerhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.

                                     Peranan Nilai Bagi Kita:
1)Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
2)Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya 3)melalui tindakan-tindakannya.
4)Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
5)Memperkuat identitas kita sebagai manusia


Materi berikutnya adalah metafisika, yang hanya berlangsug dua puluh menit... haha
Secara etimologis berarti sesudah fisika. Diambil dari kata "Meta" yang berarti sesudah, dan "physika" berarti fisika.
Salah satu arti dari metafisika sendiri adalah upaya untuk mengkarakterisasi realitas sebagai keseluruhan.


Sekian yang saya dapati hari ini.... Thanks for read. Godblessyou :)
separador

1 komentar:

Della Agatha mengatakan...

keren petnasss blognya (y)
gue kasih elu nilai 85 nihhhh

Posting Komentar

Followers