* DEDUKSI
* LOGIKA INDUKTIF
* LOGIKA INDUKTIF & DEDUKTIF
* SUBYEKVITISME & OBYEKVITISME
* KEBENARAN
* CRITICAL THINKING
~ 19 SEPTEMBER
Sungguh-sungguh luar biasa hari ini, Bagaikan segalon air, ditumpahkan dalam cawan...
Hari ini pastinya LELAH! LETIH! CAPEK! Dan Berbagai disorder lainnya hahhahaha
But the core! Hari ini fantastic!!! karena Praktek-praktek yang diberikan Rm. hari ini begitu menyenangkan.... semakin memperkuat "keinginan" saya untuk mempelajari FILSAFAT!!
Langsung ke materi pertama!!!!
KONFIRMASI, INFERENSI & TELAAH KONSTRUKSI TEORI!!!
Secara Etimologi KONFIRMASI!
Confirmation (Inggris)= penegasan "affirmation" ,memperkuat "reinforce".
Berhubungan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan,memperkuat
apa yang didapat dari kenyataan/fakta(sesuatu yang benar-benar terjadi).
Sifatnya lebih interpretatif(mengharuskan) dan memberi makna tentang sesuatu.
2 ASPEK KONFIRMASI : KUALITATIF DAN KUANTITATIF
KONFIRMASI KUANTITATIF
* Untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif.
Contohnya : membuat penelitian dengan mengumpulkan sebanyak mungkin sampel, yang akhirnya membuat
suatu kesimpulan yg bersifat umum (generalisasi).
KONFIRMASI KUALITATIF
* Ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan
"kebenaran".
Contohnya : dalam penelitian yang menjalankan model wawancara mendalam (depth
interview).
POINT PENTING DALAM KONFIRMASI
* Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yg sudah diambil
dengan fakta-fakta (evidensi).
3 JENIS KONFIRMASI
(1) decision
theory: kepastian berdasarkan keputusan ‘apakah hubungan antara hipotesis
dengan fakta punya manfaat aktual’?
(2) estimation
theory: menetapkan kepastian dg memberi peluang benar-salah melalui
konsep probabilitas. Contohnya statistik.
(3) reliability
theory: menetapkan . kepastian dg mencermati stabilitas fakta/evidensi
yg berubah2 terhadap hipotesis.
INFERENSI!
Inferensi berarti penyimpulan, diartikan sebagai proses membuat kesimpulan (conclusion)
* inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau
lebih proposisi (keputusan).
*Inferensi (penyimpulan):
bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki bergerak ke
pengetahuan baru.
*Penyimpulan: bisa berupa
“mengakui” atau “memungkiri” suatu kesatuan antara dua
pernyataan.
Terbagi atas 2 yaitu :
1. Inferensi Langsung
ialah penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan).
2. Inferensi Tidak Langsung
adalah penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis.
HUKUM INFERENSI:
1.Kalau premis-premis
benar, maka kesimpulan benar.
2.Kalau premis-premis
salah, maka kesimpulan dapat salah,
dapat kebetulan benar.
3.Bila kesimpulan salah, maka
premis-premis juga salah.
4.Bila kesimpulan benar, maka
premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
KONSTRUKSI TEORI
•Defenisi: teori=model/kerangka pikiran yg menjelaskan fenomen alami/sosial tertentu.
•Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode alamiah.
•Defenisi lain: KBBI ->teori= pendapat yg dikemukakan sbg keterangan ttg suatu peristiwa.
Miarso->teori=‘jendela’ utk mengamati gejala yg ada, dan berdasar data empiris berhasil dianalisis dan
disintesekan.
DUA KUTUB ARTI TEORI
Kutub 1: Teori sbg hukum eksperimental. Misalnya hukum Mendel ttg keturunan yg bisa langsung diuji lewat
observasi.
Kutub 2: Teori sbg hukum yg berkwalitas normal, spt teori relativitasnya Einstein.
BAGAIMANA TEORI BERKEMBANG?
Pengelompokan perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode:
•(1) Animisme: fase percaya pd mitos.
•(2) Ilmu empiris: tolok ukur ilmu paling sederhana adalah (a) pengalaman. (b) klasifikasi: prosedur paling
dasar utk mengubah data. (c) penemuan hubungan-hubungan, (d) perkiraan kabenaran.
(3) Ilmu teoretis: gejala yg ditemukan dlm ilmu empiris diterangkan dg kerangka pemikiran
* Konstruksi Teori dibangun dengan :
(1) abstraksi generalisasi.
(2) deduksi probabilistik dan deduksi apriori (spekulatif).
TIGA MODEL KONSTRUKSI TEORI
1. Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
2. Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Mementingkan kesesuaian
antara kebenaran obyektif –rasional universal dan kebenaran moral/ nilai.
3. Model ini digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata
menurut pola hubungan yang beragam, menyederhanakan
yang kompleks.
ALIRAN DALAM KONSTRUKSI MEMORI
*Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yg abstrak, tdk dpt diamati scr empiris, dan tdk dpt diuji langsung.
*Instrumentalisme: teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
*Realisme: teori dianggap benar bila real, scr substantif ada, bukan fiktif.
Sekian mengenai KONFIRMASI, INFERENSI & TELAAH KONSTRUKSI TEORI :)
Kita lanjut lagi ke materi ke-2 :)
DEDUKSI
deduksi adalah sebuah jalan pemikiran yang menggunakan argumen-argumen deduktif untuk beralih dari premis
premis yang ada, yang dianggap benar, kepada kesimpulan-kesimpulan, yang mestinya benar apabila premis
premisnya benar.
PENDAHULUAN
Sebagaimana yang telah diungkapkan bahwa penalaran dibedakan menjadi dua, yaitu tidak langsung dan
langsung.
- Penalaran tidak langsung mencakup penalaran deduktif dan induktif
- Penalaran deduktif ini selalu diungkapkan dalam bentuk silogisme.
* Dengan kata lain silogismelah yang menjadi medium pengungkapkan penalaran deduktif.
Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis dan dari premis-premis
itu ditarik suatu kesimpulan.
Dengan demikian, silogisme dapat dipahami sebagai suatu jenis penarikan kesimpulan yang didasarkan pada
premis-premis yang sudah diketahui.
Maksud dari premis-premis itu untuk memberikan bukti bahwa kesimpulan itu benar.
Premis-premis dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang dibutuhkan untuk
membuktikan kebenaran suatu kesimpulan.
Artinya, jika premis-premis benar, maka kesimpulan juga harus benar.
Benar salahnya kesimpulan deduktif berdasarkan rujukan realitas, argumentasi-argumentasi deduktif yang
memiliki kekhasan tersendiri.
Argumentasi-argumentasi deduktif dinilai lebih berdasarkan atas sahih (valid) atau tidak sahih (invalid).
Apa yang dimaksud dengan kebenaran premis?
Premis dianggap “benar” apabila sesuai dengan realitas. Sebaliknya premis dianggap “salah” apabila tidak
sesuai dengan realita.
Misalnya “Semua mahasiswa Psikologi Untar Pandai”
Pernyataan tersebut dianggap benar sebab sesuai dengan realitas.
Misalnya”Semua mahasiswa Psikologi Untar perempuan membenci laki-laki”
Tentunya pernyataan tersebut dianggap salah sebab tidak semua mahasiswa perempuan membenci laki-laki.
CIRI-CIRI SILOGISME
Suatu argumentasi disebut silogisme apabila mengikuti ciri-ciri sebagai berikut.
1.Semua pernyataannya (proposisi) adalah proposisi kategoris.
2.Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
3.Dua premis dan satu kesimpulans ecara bersama-sama memuat tiga term (kata) yang berbeda dan masing
masing trem tampak di dalam dua dari tiga proposisi.
Premis Mayor: Setiap cendekiawan adalah kaum intelektual
Premis Minor: Psikolog adalah cendekiawan
Konklusi: Jadi, Psikolog adalah kaum intelektual
Argumentasi tersebut dinamakan silogisme karena argumentasi tersebut terdiri dari 3 ciri tersebut.
Di mana proposisi hubungan antara subyek dan predikat bersifat langsung, tanpa syarat. Dengan kata lain
pengakuan predikat terhadap subyek bersifat langsung.
Pengakuan predikat “kaum intelektual” terhadap subyek “setiap cendekiawan” bersifat langsung.
Silogisme dalam contoh tersebut terdiri dari dua premis dan satu kesimpulan, yaitu premis mayor, Premis minor
dan kesimpulan.
Silogisme terdiri dari ketiga term yang berbeda (term mayor, term
minor dan term menengah), serta masing
masing term muncul dalam dua dari tiga proposisi.
Misalnya, term mayor “kaum intelektual” terdapat baik pada premis mayor maupun dalam kesimpulan. Term
minor, yaitu “Psikolog”, terdapat di premis minor dan kesimpulan. Dan term menengah (term penghubung kedua
premis) yaitu “cendekiawan” terdapat di premis mayor maupun premis minor.
NEXT >
INDUKSI
PENDAHULUAN
Penalaran induksi adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau
partikular tertentu untuk menarik kesimpulan yang umum tertentu.
Dengan kata lain, atas dasar fenomena, fakta atau data tertentu dirumuskan dalam proposisi tunggal tertentu,
ditarik kesimpulan yang dianggal sebagai benar dan berlaku umum.
CIRI PENALARAN INDUKSI
1.Premis-premis dalam penalaran induksi merupakan proposisi empiris yang berhubungan langsung dengan observasi indera. Indera menangkap dan akal menerima.
2.Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya.Karena itu, pikiran tidak terikat untuk menerima kebenaran kesimpulannya. Jadi menurut kaidah-kaidah logika penalaran ini tidak sahih.
3.Meskipun kesimpulan induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal akan menerimanya, kesuali apabila ada alasan untuk menolaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas rasional yang disebut probabilitas.
MANFAAT BELAJAR PENALARAN INDUKSI :
•B.
Russel: logika induktif bukan hanya lebih bermanfaat dr logika deduktif, tp
juga lebih sulit.
•Manfaat
logika induktif: MEMBERIKAN PEMBENARAN ATAS KECENDERUNGAN manusia yg bersandar
pd kebiasaan.
•Memang
tdk pernah bs merasa pasti atas
kebenaran suatu kesimpulan induktif, tapi ada cara tertentu dimana kita dpt
menekan kemungkinan kesalahan.
•Maka,
jangan pernah menarik kesimpulan induktif dg data yang masih minum,
tergesagesa, ceroboh dan hanya di landasi prasangka.
GENERALISASI INDUKTIF
*Proses induksi dapat dibedakan menjadi generasilasi induksi, analogi induktif dan hubungan sebab akibat.
*Genaralisasi induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala atu sifat-sifat
tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua.
*Dapat dikatakan juga sebagai bentuk penalaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat khusus atau premis
ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
*Prinsipnya adalah “ apa yang diterjadi beberapa kali dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang
sama terpenuhi”.
*Kesimpulan dalam generalisasi itu hanya suatu harapan, kepercayaan, karena konklusi penalaran induktif tidak
mengandung nilai kebenaran yang pasti, akan tetapi hanya berupa suatu probabilitas atau peluang.
SYARAT-SYARAT GENERALISASI
1.Generasilasi tidak terbatas secara numerik. Artinya generalisasi tidak boleh terikat pada jumlah tertentu.
2.Generalisasi tidak terbatas secara “spasio-temporal”. Artinya generalisasi tidak boleh terbatas dalam ruang
dan waktu. Jadi berlaku di mana saja dan kapan saja.
3.Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian. Misalnya, ada fakta bahwa anak SMA itu berbeda
dengan mahasiswa. Apabila ditemukan fakta bahwa anak SMA sering membolos, mencontek saat ujian, suka
tawuran dan tidak dapat diatur. Seandainya mahasiswa mempunyai sifat yang sama, maka dapat disimpulkan
bahwa mahasiswa itu sama dengan anak SMA.
ANALOGI INDUKTIF
*Berbicara mengenai analogi adalah berbicara mengenai dua hal yang berlainan dan dua hal yang berlainan
tersebut dibandingkan.
*Dalam melakukan pembandingan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu Persamaan dan Perbedan.
*Apabila kita membandingkan dua orang hanya melihat dari aspek persamaannya tanpa melihat perbedaan,
maka timbullah analogi, yaitu persamaan di antara dua hal yang berbeda.
*Analogi dalam penalaran adalah analogi induktif artinya suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan
tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus lainnya
yang memiliki sifat-sifat
esensial
yang sama.
*Yang terpenting dalam analogi induktif adalah apakah persamaan yang dipakai sebagai dasar kesimpulan
sungguh-sungguh merupakan ciri-ciri esensial yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.
*Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal melainkan khusus, walau benar bahwa tidak mungkin
kesimpulan yang khusus dalam analogi itu terjadi kalao tidak berpikir bahwa hal itu terjadi dalam keseluruhan.
*Prinsip dasar penalaran analogi induktif adalah “Karena hal d analog dengan a, b, c, maka apa yang berlaku
bagi a, b, dan c dapat diharapkan berlaku juga untuk d.”
LOGIKA INDUKTIF & DEDUKTIF
* Jadi analogi induktif menarik kesimpulan atas dasar persamaan.
* Beda dg generalisasi induktif, dimana konklusinya berupa proposisi universal.
* Penalaran induktif, konklusinya lebih luas daripada premis-premis.
DEDUKTIF
–Deduksi sebaliknya juga merupakan suatu proses tertentu dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih ‘khusus’ dari pengetahuan yang lebih ‘ umum’ . yang lebih khusus itu sudah termuat secara implisit dalam pengetahuan yang lebih umum.
–Induksi dan deduksi selalu berdampingan, keduanya selalu bersama-sama dan saling memuat. Induksi tidak dapat ada tanpa deduksi.
Deduksi selalu di jiwai oleh induksi . dalam proses memperoleh ilmu pengetahuan , induksi biasanya
mendahuli deduksi . sedangkan dalam logika biasanya deduksi yang terutama di bicarakan lebih dahulu. Deduksi di pandang lebih penting untuk latihan dan perkembangan pikiran.
FAKTOR PROBABILITAS
•Kebenaran konklusi dlm logika induktif, baik dlm analogi maupun generalisasi bersifat TIDAK PASTI, krn hanya bersifat mungkin (probabel). Probabilitas = keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan.
•Tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi oleh (1) faktor fakta: ‘makin besar jumlah fakta yg dijadikan dasar penalaran induktif, akan makin tinggi probabilitas konklusi dan sebaliknya’. (2) faktor analogi: ‘semakin besar jumlah faktor analogi dlm premis, makin rendah probabilitas konklusinya, dan sebaliknya.’ (3) faktor disanalogi: ‘makin besar faktor disanalogi di dlm premis, akan makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya’. (4) faktor luas konklusi: ‘semakin luas konklusi, semakin rendah probabilitasnya, dan sebaliknya’.
KESESATAN ANALOGI
•Tinggi rendahnya probabilitas penalaran ditentukan faktor subjektif. Faktor ini membawa manusia pada kesesatan (fallacy). Kesesatan penalaran induktif yg terpenting adalah:
•Tergesagesa: cepat menarik kesimpulan dari beberapa fakta.
•Faktor ceroboh: cepat tarik kesimpulan tanpa memperhatikan soal kondisi lingkungan, mis. Semua wanita Jawa itu lembut.
•Prasangka: memberi penilaian tanpa melihat fakta lain yg tdk cocok, mis. Semua org Batak bicara keras dan tak sabaran.
•Utk menghindarinya: membangun sikap kritis, terbuka pd koreksi dan kritik dr org lain.
HUBUNGAN SEBAB AKIBAT
•Prinsip umum: suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu. Terkandung makna bhw yg satu (sebab) mendahului yang lain (akibat). Tp tdk semua yg mendahului sesuatu menjadi sebab bagi yang lain.
•Hub sebab akibat = hubungan yg intrinsik, artinya hub sedemikan rupa shg kalau yg satu ada/tdk ada, maka yang lain juga pasti ada/tdk ada.
•Tiga pola hub sebab akibat: 1) dari sebab ke akibat, 2) dari akibat ke sebab, dan 3) dari akibat ke akibat.
MANFAAT BELAJAR PENALARAN
•B. Russel: logika induktif bukan hanya lebih bermanfaat dr logika deduktif, tp juga lebih sulit.
•Manfaat logika induktif: MEMBERIKAN PEMBENARAN ATAS KECENDERUNGAN manusia yg bersandar pd kebiasaan.
•Memang tdk pernah bs merasa pasti atas kebenaran suatu kesimpulan induktif, tapi ada cara tertentu dimana kita dpt menekan kemungkinan kesalahan.
•Maka, jangan pernah menarik kesimpulan induktif dg data yang masih minum, tergesagesa, ceroboh dan hanya di landasi prasangka.
•Logika/Penalaran induktif = cara kerja ilmu pengetahuan yg bertolak dr sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu utk menarik kesimpulan umum tertentu.
•Atas dasar fakta dirumuskan kesimpulan umum.
•Kesimpulan itu = generalisasi fakta yg memperlihatkan kesamaan.
•Namun kesimpulan umum hrs dianggap sbg bersifat sementara. Krn ciri dasar induktif selalu tidak lengkap.
•Persamaan penalaran induktif dg deduktif = argumentasi keduanya terdiri dr premis2 yg mendukung kesimpulan.
•Perbedaan: penalaran induksi yg tepat akan punya premis2 benar tapi kesimpulan salah, krn argumentasi penalaran induktif tdk membuktikan kesimpulan benar. Premis hanya menetapkan kesimpulan berisi suatu kemungkinan.
•Maka argumentasi dlm penalaran induksi tdk dinilai sbg sahih/valid atau tdk sahih/invalid, tapi berdasarkan probabilitas.
CARA PENALARAN INDUKTIF
•Proses induksi mulai berdasar kejadian2, gejala partikular. Penal induksi = proses penalaran berdasarkan pengertian partikular/premis utk hasilkan pengertian umum/kesimpulan.
•Tiga ciri penalaran induktif: 1) Premis penal induktif =proposisi empiris yg ditangkap indera, 2) Kesimpulan dlm penalaran induksi lebih luas drpd apa yang dinyatakan dlm premis. 3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya. Jadi konklusi induksi punya kredibilitas rasional=probabilitas.
GENERLISASI INDUKTIF
•Arti: Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dg sifat tertentu utk menarik kesimpulan ttg semua.
•Prinsip: Apa yg terjadi beberapa kali dlm kondisi tertentu dpt diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yg sama terpenuhi.
•Tiga syarat membuat generalisasi: 1) Tdk terbatas scr numerik, tdk boleh terikat pd jumlah tertentu, 2) Tdk terbatas scr spasio temporal, hrs berlaku dimana saja. 3) Dpt dijadikan dasar pengandaian.
ANALOGI INDUKTIF
•Analogi
= bicara ttg dua hal yg berbeda dan dibandingkan. Dua hal perlu diperhatikan:
persamaan dan perbedaan.
•Bila
memperhatikan persamaan saja, maka timbul analogi.
•Maka
analogi induktif – proses penalaran utk menarik kesimpulan ttg kebenaran suatu
gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus yg lain yg punya sifat
esensial yg sama.
•Kesimpulan
analogi induktif tdk bersifat universal tapi khusus. Contoh: Mangga 1: kuning,
besar, matang, ternyata manis.
Mangga 2: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 3: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 4: kuning, besar, dan matang àKesimpulan tentu manis
juga.
* Jadi analogi induktif menarik kesimpulan atas dasar persamaan.
* Beda dg generalisasi induktif, dimana konklusinya berupa proposisi universal.
* Penalaran induktif, konklusinya lebih luas daripada premis-premis.
DEDUKTIF
–Deduksi sebaliknya juga merupakan suatu proses tertentu dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih ‘khusus’ dari pengetahuan yang lebih ‘ umum’ . yang lebih khusus itu sudah termuat secara implisit dalam pengetahuan yang lebih umum.
–Induksi dan deduksi selalu berdampingan, keduanya selalu bersama-sama dan saling memuat. Induksi tidak dapat ada tanpa deduksi.
Deduksi selalu di jiwai oleh induksi . dalam proses memperoleh ilmu pengetahuan , induksi biasanya
mendahuli deduksi . sedangkan dalam logika biasanya deduksi yang terutama di bicarakan lebih dahulu. Deduksi di pandang lebih penting untuk latihan dan perkembangan pikiran.
FAKTOR PROBABILITAS
•Kebenaran konklusi dlm logika induktif, baik dlm analogi maupun generalisasi bersifat TIDAK PASTI, krn hanya bersifat mungkin (probabel). Probabilitas = keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan.
•Tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi oleh (1) faktor fakta: ‘makin besar jumlah fakta yg dijadikan dasar penalaran induktif, akan makin tinggi probabilitas konklusi dan sebaliknya’. (2) faktor analogi: ‘semakin besar jumlah faktor analogi dlm premis, makin rendah probabilitas konklusinya, dan sebaliknya.’ (3) faktor disanalogi: ‘makin besar faktor disanalogi di dlm premis, akan makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya’. (4) faktor luas konklusi: ‘semakin luas konklusi, semakin rendah probabilitasnya, dan sebaliknya’.
KESESATAN ANALOGI
•Tinggi rendahnya probabilitas penalaran ditentukan faktor subjektif. Faktor ini membawa manusia pada kesesatan (fallacy). Kesesatan penalaran induktif yg terpenting adalah:
•Tergesagesa: cepat menarik kesimpulan dari beberapa fakta.
•Faktor ceroboh: cepat tarik kesimpulan tanpa memperhatikan soal kondisi lingkungan, mis. Semua wanita Jawa itu lembut.
•Prasangka: memberi penilaian tanpa melihat fakta lain yg tdk cocok, mis. Semua org Batak bicara keras dan tak sabaran.
•Utk menghindarinya: membangun sikap kritis, terbuka pd koreksi dan kritik dr org lain.
HUBUNGAN SEBAB AKIBAT
•Prinsip umum: suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu. Terkandung makna bhw yg satu (sebab) mendahului yang lain (akibat). Tp tdk semua yg mendahului sesuatu menjadi sebab bagi yang lain.
•Hub sebab akibat = hubungan yg intrinsik, artinya hub sedemikan rupa shg kalau yg satu ada/tdk ada, maka yang lain juga pasti ada/tdk ada.
•Tiga pola hub sebab akibat: 1) dari sebab ke akibat, 2) dari akibat ke sebab, dan 3) dari akibat ke akibat.
MANFAAT BELAJAR PENALARAN
•B. Russel: logika induktif bukan hanya lebih bermanfaat dr logika deduktif, tp juga lebih sulit.
•Manfaat logika induktif: MEMBERIKAN PEMBENARAN ATAS KECENDERUNGAN manusia yg bersandar pd kebiasaan.
•Memang tdk pernah bs merasa pasti atas kebenaran suatu kesimpulan induktif, tapi ada cara tertentu dimana kita dpt menekan kemungkinan kesalahan.
•Maka, jangan pernah menarik kesimpulan induktif dg data yang masih minum, tergesagesa, ceroboh dan hanya di landasi prasangka.
CRITICAL THINKING
Berpikir Kritis
*Merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati2 mengamati/ memeriksa proses berpikir sebagai dasar
untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu (Chaffee,1990)
*Pemeriksaan/ pengamatan atas sesuatu asumsi tentang bukti terbaru dan mengintepretasikan dan
mengevaluasi argumen dalam rangka menegakkan kesimpulan atas suatu perspektif baru (Strader,1992).
Karakteristik Berpikir Kritis
1.Rasional, Reasonable, Reflektif
*Berdasarkan alasan2 dan bukti2; bukan atas dasar keinginan pribadi
*Pemikir kritis tidak “melompat pada kesimpulan”; buruh waktu u/ koleksi data, timbang fakta, dan pikirkan
permasalahan
2. Melibatkan Skepticism yang sehat dan konstruktif
*Tidak menerima atau menolak ide2, kecuali karena mengerti hal tersebut
*Menaati peraturan setelah berpikir panjang dg mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal
3. Otonomi
*Tidak mudah dimanipulasi
*Berpikir dengan pikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya
.
4. Kreatif
*Menciptakan ide2 orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran2 dan konsep
.
5.Adil
*Tidak bias atau berpihak
6. Dapat dipercaya dan Dilakukan
*Memutuskan tindakan yang akan dilakukan;
*Membuat observasi yang dapat dipercaya;
*Menegakkan kesimpulan secara tepat;
*Mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.
Pemikir Kritis di
Psikologi akan mempraktekkan ketrampilan kognitif dalam :
1. Analisa
2. Aplikasi standar
3. Diskriminasi
4.Pencarian informasi
5. Pembuatan alasan logis
6. Prediksi
7. Transformasi pengetahuan
5 Model Berpikir Kritis
T : Total Recall
H : Habits
I : Inquiry
N : New ideas and Creativity
K : Knowing how you think
SELAMAT MENGGUNAKAN CARA BERPIKIR KRITIS DALAM KEHIDUPAN
ANDA!
Source : Power Point FILSAFAT
Oleh
Oleh
Dr. Raja Oloan Tumanggor
Carolus Suharyanto, Lic.Theol.
Mikha Agus Widianto, M.Pd
Bonar Hutapea, M.Si. Psi.
Sekian postingan saya hari ini :) Thanks for reading and Godblessyou....
Nantikan postingan saya yang berikutnya yah... Karena PASTI lebih menarik dan membuat
anda terpikat dengan serunya belajar FILSAFAT :D xoxoxoox


6 komentar:
Lengkap banget trus tulisannya gangerusak mata cocok sama backgroundnya :) 88 yaaaaa buat lo
Bagus nih lengkap rapih jugaa 90 yaa petnas:D
tulisannya santai banget membuat pembaca jadi penasaran, 90 to you. good job boy
Blognya lengkap bgt, ditunggu post selanjutnya. Nilainya 89 yaa :D
bagus dan rapi nihh kasih nilai 88 yaaa... lanjutin terus yaa post nyaa
blognya lengkap dan rapii, nilainya 90 yahh
Posting Komentar